JAKARTA, NuansaInvestigasi.com — Diare sering membuat seseorang kehilangan nafsu makan. Namun, menghentikan makan sama sekali bukan langkah yang dianjurkan untuk kebanyakan kasus diare akut.
Sejumlah pedoman medis justru menganjurkan agar seseorang tetap mendapatkan asupan makanan ketika sudah mampu makan, sembari mengganti cairan dan elektrolit yang hilang. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menempatkan rehidrasi sebagai bagian penting penanganan diare, sementara panduan gastroenterologi menyebut pemberian makanan kembali secara dini pada orang dewasa dapat membantu mempertahankan kondisi nutrisi.
Bagi masyarakat Indonesia, pilihan makanan tidak harus mahal atau sulit dicari. Beberapa makanan sederhana seperti nasi, pisang, kentang, telur dan sup dapat menjadi pilihan selama dimasak dengan baik dan tidak diberi banyak minyak, cabai atau bumbu yang berpotensi memperburuk keluhan.
Berikut delapan pilihan makanan yang dapat dipertimbangkan.
1. Nasi putih atau bubur nasi
Nasi putih merupakan sumber karbohidrat yang relatif sederhana dan mudah dipadukan dengan lauk rendah lemak.
Dalam kondisi diare, nasi dapat diberikan dalam bentuk yang lebih lunak seperti bubur apabila perut masih sensitif. Kementerian Kesehatan RI juga memasukkan makanan lunak seperti bubur sebagai salah satu pilihan saat mengalami gangguan pencernaan.
Porsinya tidak perlu langsung banyak. Makan dalam jumlah kecil tetapi lebih sering dapat menjadi pilihan apabila nafsu makan belum pulih.
Pilihan praktis: bubur nasi polos dengan sedikit telur matang atau ayam tanpa kulit.
2. Pisang
Pisang termasuk buah yang relatif mudah dikonsumsi ketika saluran pencernaan sedang sensitif.
Pisang juga menyediakan kalium, salah satu elektrolit yang dapat ikut hilang ketika seseorang mengalami diare.
Penelitian akademis memang menemukan potensi manfaat pisang hijau dalam pengelolaan diare, tetapi penelitian tersebut dilakukan terutama pada anak dengan diare persisten. Karena itu, hasil penelitian tersebut tidak boleh diterjemahkan sebagai bukti bahwa pisang dapat menghentikan semua jenis diare pada orang dewasa.
Untuk orang dewasa, pisang matang dalam porsi wajar dapat menjadi pilihan makanan yang mudah dikonsumsi.
3. Kentang rebus
Kentang rebus atau kukus dapat menjadi sumber karbohidrat ketika seseorang tidak ingin makan nasi.
Yang perlu diperhatikan adalah cara memasaknya. Kentang sebaiknya tidak digoreng dan tidak diberi banyak mentega, saus, santan atau bumbu pedas.
Panduan NIDDK/NIH memasukkan kentang rebus sebagai salah satu contoh makanan lunak yang dapat dikonsumsi ketika mengalami diare.
Pilihan praktis: kentang rebus tanpa kulit dengan sedikit garam, atau dicampur ke dalam sup bening.

4. Roti tawar atau biskuit tawar
Roti tawar dan biskuit tawar dapat menjadi alternatif apabila seseorang merasa tidak nyaman makan nasi.
NIDDK juga mencantumkan roti panggang dan crackers sebagai contoh makanan yang relatif ringan untuk dikonsumsi ketika mengalami diare.
Namun, hindari menjadikannya makanan yang dipenuhi krim, cokelat, margarin atau gula dalam jumlah besar karena makanan tinggi lemak dan gula dapat memperburuk diare pada sebagian orang.
5. Telur matang
Telur dapat membantu menyediakan protein ketika tubuh tetap membutuhkan asupan nutrisi selama masa pemulihan.
Pilihan yang lebih aman adalah telur rebus atau telur yang dimasak dengan sedikit minyak. Hindari telur yang dimasak dengan banyak minyak atau dicampur saus pedas.
Kementerian Kesehatan RI juga menyebut telur matang sebagai salah satu pilihan makanan yang dapat diberikan ketika mengalami diare pada anak, bersama makanan lunak lainnya.
Untuk orang dewasa, prinsipnya sama: pilih cara pengolahan yang sederhana dan sesuaikan dengan toleransi tubuh.
6. Ayam tanpa kulit
Protein tetap dibutuhkan selama tubuh memulihkan diri.
Ayam tanpa kulit yang direbus, dikukus atau dimasak sebagai bagian dari sup dapat menjadi pilihan. NIDDK mencantumkan ayam panggang tanpa kulit atau lemak sebagai salah satu contoh makanan yang dapat dikonsumsi ketika mengalami diare.
Sebaliknya, ayam goreng, ayam dengan kulit yang sangat berlemak, atau makanan ayam dengan sambal dan saus pedas sebaiknya ditunda sampai kondisi membaik.
7. Wortel yang dimasak
Wortel yang dimasak hingga lunak dapat menjadi pilihan sayuran ketika seseorang mulai kembali makan.
NIDDK mencantumkan wortel matang sebagai salah satu contoh makanan yang dapat dikonsumsi dalam kondisi diare.
Untuk sementara, lebih baik memilih sayuran yang dimasak hingga lunak dibandingkan salad atau sayuran mentah yang sulit ditoleransi oleh sebagian orang ketika saluran pencernaan sedang terganggu.
8. Sup bening dengan bahan sederhana
Sup bening dapat menjadi pilihan yang praktis karena sekaligus memberikan makanan dan cairan.
Kementerian Kesehatan RI menyebut sup serta makanan berkuah atau berkaldu sebagai bagian dari pilihan asupan ketika mengalami diare.
Sup sebaiknya dibuat sederhana, misalnya dengan nasi atau kentang, wortel matang dan ayam tanpa kulit.
Hindari sup yang terlalu berminyak, pedas, bersantan pekat atau mengandung banyak penyedap jika bahan tersebut membuat keluhan semakin berat.

Yang Lebih Penting dari Makanan: Ganti Cairan dan Elektrolit
Daftar makanan di atas tidak boleh membuat seseorang melupakan hal yang paling penting dalam penanganan diare, yaitu mencegah dehidrasi.
Diare menyebabkan tubuh kehilangan air dan elektrolit. WHO merekomendasikan oralit atau oral rehydration salts (ORS) untuk mengganti cairan dan elektrolit yang hilang. Kementerian Kesehatan RI juga menempatkan oralit sebagai bagian penting dalam penanganan diare.
Karena itu, seseorang yang sedang diare sebaiknya tidak hanya berfokus pada makanan, tetapi juga memastikan tubuh mendapatkan cukup cairan.
Jika muntah membuat seseorang sulit minum dalam jumlah banyak, cairan dapat dicoba secara perlahan dalam tegukan kecil dan berulang.
Tidak Perlu Hanya Makan Pisang, Nasi, dan Roti
Istilah BRAT diet—banana, rice, applesauce dan toast—cukup populer dalam pembahasan diare.
Namun, pedoman medis modern tidak menganjurkan seseorang membatasi makanan hanya pada pola tersebut dalam waktu lama.
Pedoman Infectious Diseases Society of America menyebut bukti untuk diet BRAT dan penghindaran produk susu sebagai strategi khusus diare masih terbatas. Pada orang dewasa, pemberian makanan kembali secara dini justru dinilai bermanfaat terhadap kondisi nutrisi.
Artinya, ketika nafsu makan sudah kembali, seseorang pada umumnya dapat secara bertahap kembali ke pola makan normal, selama makanan tersebut tidak memperburuk gejala.
Makanan yang Sebaiknya Dibatasi Sementara
Ada beberapa jenis makanan dan minuman yang lebih berpotensi memperburuk diare pada sebagian orang.
NIDDK menyarankan menghindari atau membatasi:
- makanan yang tinggi lemak, termasuk gorengan dan fast food;
- minuman berkafein;
- alkohol;
- makanan atau minuman dengan gula sederhana dalam jumlah tinggi;
- pemanis alkohol seperti sorbitol pada permen atau produk tanpa gula;
- susu dan produk susu jika menimbulkan masalah karena laktosa.
Menariknya, intoleransi laktosa sementara dapat terjadi setelah episode diare akut. Karena itu, seseorang yang biasanya baik-baik saja dengan susu bisa saja mengalami keluhan setelah mengonsumsinya ketika usus masih dalam masa pemulihan.
Bagaimana dengan Yogurt?
Yogurt sering disebut sebagai makanan yang baik untuk pencernaan karena mengandung mikroorganisme hidup.
Namun, yogurt tidak bisa dianggap sebagai obat diare untuk semua orang. Bukti mengenai manfaat produk susu fermentasi terhadap kesehatan saluran cerna memang cukup banyak, tetapi hasil penelitian tidak selalu sama untuk setiap kondisi.
Selain itu, sebagian orang yang baru pulih dari diare dapat mengalami kesulitan sementara dalam mencerna laktosa. Karena itu, jika yogurt justru membuat perut semakin kembung atau diare bertambah, sebaiknya dihentikan sementara.
Kapan Diare Tidak Boleh Ditangani Sendiri?
Diare tidak selalu merupakan gangguan ringan.
NIDDK menyarankan orang dewasa segera mendapatkan pertolongan medis apabila terdapat kondisi seperti darah atau nanah dalam tinja, tinja berwarna hitam seperti aspal, demam tinggi, muntah terus-menerus, nyeri perut berat, tanda dehidrasi, enam kali atau lebih BAB cair dalam sehari, atau diare berlangsung lebih dari tiga hari.
Kondisi seperti tidak mampu minum cukup cairan atau oralit juga menjadi alasan untuk mencari bantuan medis karena risiko dehidrasi.
Kementerian Kesehatan RI juga menekankan pentingnya mengenali tanda dehidrasi dan mendapatkan pertolongan medis bila kondisi memburuk.
Kesimpulan
Tidak ada satu makanan yang secara ajaib menghentikan semua jenis diare. Bagi kebanyakan orang dewasa dengan diare akut yang masih dapat makan dan minum, pendekatan yang lebih tepat adalah tetap mendapatkan nutrisi, memilih makanan sederhana yang dapat ditoleransi tubuh, dan yang paling penting mengganti cairan serta elektrolit yang hilang.
Delapan pilihan yang relatif mudah ditemukan di Indonesia adalah:
1. Nasi atau bubur nasi
2. Pisang
3. Kentang rebus
4. Roti tawar atau biskuit tawar
5. Telur matang
6. Ayam tanpa kulit
7. Wortel matang
8. Sup bening
Pilihan makanan tersebut bukan pengganti pemeriksaan dokter. Penyebab diare sangat beragam sehingga penanganannya juga dapat berbeda.
NuansaInvestigasi.com mengingatkan: apabila diare disertai darah, dehidrasi, demam tinggi, nyeri perut berat, muntah berulang, atau berlangsung lebih dari beberapa hari, jangan hanya mengandalkan perubahan makanan. Segera konsultasikan kondisi tersebut kepada tenaga kesehatan.
oleh eL
Daftar Pustaka dan Referensi
- World Health Organization (WHO). Diarrhoeal disease — informasi mengenai rehidrasi oral, nutrisi dan tanda yang memerlukan pertolongan medis.
- National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK), National Institutes of Health. Eating, Diet, & Nutrition for Diarrhea — panduan makanan dan minuman saat diare serta makanan yang sebaiknya dibatasi.
- National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK), NIH. Treatment of Diarrhea — penanganan diare, rehidrasi dan elektrolit.
- Riddle MS, DuPont HL, Connor BA. ACG Clinical Guideline: Diagnosis, Treatment, and Prevention of Acute Diarrheal Infections in Adults. American Journal of Gastroenterology, 2016.
- Shane AL, et al. 2017 Infectious Diseases Society of America Clinical Practice Guidelines for the Diagnosis and Management of Infectious Diarrhea. Clinical Infectious Diseases, 2017.
- Acree M, Davis AM. Acute Diarrheal Infections in Adults. JAMA, 2017. Ringkasan akademis pedoman ACG untuk diare akut pada orang dewasa.
- Kementerian Kesehatan RI – Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan. Penanganan Awal pada Diare, 2024.
- Kementerian Kesehatan RI – Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan. Mari Mengenal Obat Diare, 2025.
- Rabbani GH, et al. Penelitian klinis mengenai diet berbasis nasi dengan pisang hijau atau pektin pada diare persisten. Gastroenterology dan Digestive Diseases and Sciences.








Tinggalkan Balasan