NuansaInvestigasi.com – PURWAKARTA — Rencana pembangunan pusat data berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) milik BDx Data Centers di kawasan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, mendapat perhatian dari kalangan akademisi.
Proyek dengan nilai investasi sekitar Rp3,5 triliun tersebut saat ini masih dalam kondisi penghentian sementara. Sejumlah pakar menilai pembangunan fasilitas dengan skala kebutuhan sumber daya yang besar perlu disertai kajian komprehensif mengenai dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar.
Perhatian terutama tertuju pada kebutuhan energi dan air yang diperlukan untuk menjalankan pusat data tersebut.
Data center berbasis AI membutuhkan kapasitas listrik yang sangat besar untuk mengoperasikan berbagai perangkat komputasi, server, sistem penyimpanan data, hingga perangkat pendukung lainnya. Dalam rencana proyek tersebut, kebutuhan listrik disebut dapat mencapai sekitar 640 megawatt.
Selain energi, kebutuhan air juga menjadi salah satu aspek yang perlu diperhitungkan. Air dibutuhkan dalam sistem pendinginan untuk menjaga perangkat pusat data tetap beroperasi pada suhu yang aman.
Kondisi tersebut membuat pembangunan pusat data berskala besar tidak hanya perlu dilihat dari sisi investasi dan perkembangan teknologi, tetapi juga dari kemampuan lingkungan dalam menopang kebutuhan operasionalnya.
Pakar Minta Dampak Lingkungan Dikaji Mendalam
Ahli teknologi pengelolaan lingkungan dari Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan Institut Teknologi Bandung (FTSL ITB), Mariana Marselina, menilai proyek tersebut perlu dilihat sebagai pembangunan infrastruktur yang mempunyai kebutuhan sumber daya cukup besar.
Menurutnya, aspek lingkungan harus menjadi bagian penting dalam proses pembangunan maupun pengoperasian fasilitas pusat data.
Pembangunan infrastruktur dengan kebutuhan energi dan air dalam jumlah besar, kata dia, perlu memperhitungkan ketersediaan sumber daya serta kemungkinan dampaknya terhadap kawasan di sekitarnya.
Kajian tersebut tidak hanya berkaitan dengan kondisi lingkungan saat fasilitas beroperasi, tetapi juga perlu mempertimbangkan keberlanjutan sumber daya yang digunakan dalam jangka panjang.

Kebutuhan Energi dan Air Jadi Perhatian
Besarnya konsumsi listrik menjadi salah satu persoalan yang mendapat perhatian karena data center AI membutuhkan daya secara terus-menerus.
Selain pasokan listrik, sistem pendinginan juga menjadi komponen penting dalam operasional pusat data. Semakin besar kapasitas komputasi yang digunakan, semakin besar pula kebutuhan pengelolaan panas yang dihasilkan perangkat.
Karena itu, kebutuhan air untuk pendinginan menjadi aspek lain yang dinilai perlu dihitung secara cermat.
Pakar menilai keberadaan pusat data di kawasan Jatiluhur harus mempertimbangkan keseimbangan antara kebutuhan industri digital dengan kondisi ekosistem dan kepentingan masyarakat yang berada di sekitar kawasan tersebut.
Regulasi Khusus Dinilai Diperlukan
Perkembangan teknologi AI yang mendorong pembangunan pusat data berkapasitas besar juga menimbulkan kebutuhan terhadap aturan yang lebih spesifik.
Kajian mengenai konsumsi energi, penggunaan air, pengelolaan limbah, hingga dampak terhadap lingkungan menjadi sejumlah aspek yang dapat menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan regulasi.
Dengan demikian, pembangunan data center tidak hanya dinilai dari besarnya investasi maupun kapasitas teknologi yang ditawarkan, tetapi juga dari kemampuan proyek tersebut menjaga keberlanjutan lingkungan di wilayah operasionalnya.
Proyek BDx Data Centers di Jatiluhur pun menjadi salah satu contoh bagaimana pertumbuhan industri AI dan infrastruktur digital perlu berjalan beriringan dengan pengelolaan sumber daya alam serta perlindungan ekosistem.
oleh eL








Tinggalkan Balasan